Kebijakan pemerintah dalam sektor pertanian

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM SEKTOR PERTANIAN

(kebijakan pemerintah)

 


 

Oleh : firda faizatul qomariyah

NPM : 29213978

Fakultas/jurusan : Ekonomi/Akuntansi

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

     

    Indonesia merupakan negara maritim namun selain dikenal dengan negara maritim indonesia juga dikenal dengan negara agraris , yang artinya negara yang salah satu penunjang perekonomiannya adalah sektor pertanian .

    Indonesia merupakan negara agraris dengan luas lahan yang sangat luas dan keaneka ragaman hayati yang sangat beragam . hal ini sangat memungkin kan menjadikan negara indonesia sebagai negara agraris terbesar di Dunia .

    Dinegara agraris seperti Indonesia pertanian mempunyai kontribusi penting baik terhadap perekonomian maupun terhadap pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat .

    Apalagi dengan meningkatnya jumlah penduduk yang berarti kebutuhan akan pangan juga semakin meningkat .

    Selain itu ada peran tambahan dari sektor pertanian yaitu peningkatan kesejahteraaan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan . sebagian besar penduduk nya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani . sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peran terpenting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk Indonesia .

    Indonesia adalah negara agraris yang mempunyai keanekaragaman hayati dan sumber daya alam tertinggi . tetapi juga komponen abiotik seperti minyak bumi , gas alam , berbagai jenis logam , air dan tanah inovasi teknologi , kemajuan peradaban dan populasi manusia , serta revolusi telah membawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga persediaan nya terus berkurang secara signifikan terutama pada satu abad belakangan ini .

    Sumber daya alam mutlak diperlukan untuk menunjang kebutuhan manusia , tetapi sayang nya keberadaannya tidak tersebar merata dan beberapa negara .

    Begitu banyak keunggulan Indonesia , namun hal tersebut tidak mejadikan negara indonesia negara yang maju dan besar . masih banyak kemiskinan pada warganya itu dikarenakan masih banyak warga ataupun pemerintahnya yang belum bisa memanfaat kan kekayaan alam yang dimiliki negara indonesia .

     

    Bukan hanya karena mereka belum bisa memanfaat kan kekayaan alam yang dimiliki negara indonesia , tapi juga karena ada beberapa faktor yang mnyebabkan menurun nya hasil dari sektor pertanian dan juga minat para pemuda yang berkurang yang menyebabkan berkurangnya penerus petani di Indonesia .

    Selain itu sektor pertanian merupakan pilar utama perekonomian indonesia dikarenakan hampir seluruh

 

  1. Tujuan Penulisan

     

    Tujuan saya memilih judul kebijakan pemerintah dalam bidang pertanian adalah untuk memberitahu dan mencari tau faktor apa yang menyebabkan merosotnya sektor pertanian di negara kita ini .

    Dan mencari tau solusi terbaik apanyang harus dilakukan agar sektor pertanian menjadi salah satu penunjang perekonomian indonesia lagi dan agar indonesia tidak terlalu bergantung dari hasil impor pertanian dari luar negeri .

 

TINJAUAN LITERATUR

 

  1. Teori sentralisasi pengendalian

     

    Irawan (2004) konversi lahan sangat sulit dihindari karena faktor faktor ekonomi yang tercermin dari rendahnya land rent lahan untuk pertanian dibandingkan dengan kegiatan sektor lain . rasio land rent adalah 1:500 untuk kawasan industri dan 1:600 untuk kawasan perumahan (nasoetion dan winoto) .

    Dijaman sekarang ini terlalu banyak orang yang memikirkan kepentingan pribadi dibanding dengan kepentingan bersama , seperti hal nya mereka yang seenaknya mengambil lahan pertanian yang menggantinya dengan tempat tempat industri dan perumahan . padahal secara tidak langsung dengan cara seperti itu mereka akan perlahan merusak alam .

    Salah satu alternatif kebijakannya adalah sentralisasi pengendalian . kebijakan ini maksudnya adalah suatu keputusan politik yang mengambil alih atau membatasi kebebasan dalam mengambil sumber daya dalam suatu wilayah . Teori ini awalnya bertujuan agar sumber daya alam yang ada disuatu wilayah tidak digunakan dengan seenak nya , dan tidak untuk dihambur hamburkan . seperti halnya penggunaan air untuk mengairi itu diberikan sebutuhnya tidak berlebihan bukan karna apa apa tapi agar persediaan air tidak habis , namun pada kenyataan nya Pendekatan yang sentralistik juga sering menyebabkan pemanfaatan sumber daya menjadi tidak efisien (Ostrom 1990).

    Pendekatan sentralistik juga sering tidak dilengkapi dengan pengetahuan lokal yang memadai untuk memantau perkembangan sumber daya yang diperlukan untuk menentukan aturan- aturan pengendalian yang memadai. Seperti yang diketahui sawah beririgasi itu kaitannya sangat erat dengan air , dengan adanya kebijakan seperti ini apakah sawah beririgasi ini dapat berproduksi dengan efektif ?

    Seperti nya sawah beririgasi itu tidak dapat berjalan dengan efektif karna memang kebutuhan air yg banyak yg dibutuhkan agar produktifitasnya efektif .

    Suatu persawahan beririgasi di indonesia merupakan aset penting negara karena bukan hanya diperlukan untuk mendukung ketahanan panga tetapi juga untuk menjaga kebudayaan yang harus terus berkelanjutan .

    Namun sayang nya lahan sawah irigasi didaerah daaerah seperti dijawa mengalami penurunan karena meningkatnya persaingan lahan dan air .

    Bukan hanya karna persaingan yang meningkat saja tapi juga karna persediaan air yang semakin lama semakin berkurang , bahkan dimasa yang mendatang persediaan air sudah sangat terbatas .

    Ada tiga alternatif kebijakan untuk mengendalikan konversi lahan yang perlu dipertimbangkan yang disesuaikan dengan fase-fase perkembangan dan fungsi utama sawah irigasi dalam suatu DAS. Pertama, kebijakan pengendalian melalui otoritas sentral, yaitu suatu keputusan politik yang mengambil alih atau membatasi kebebasan dalam mengakses sumber daya dalam suatu wilayah. Kedua, kebijakan yang bertujuan memberikan insentif kepada pemilik sawah beririgasi, baik individual maupun kolektif, karena posisinya yang strategis dalam menjalankan fungsi produksi, konservasi, dan warisan nilai-nilai budaya. Ketiga adalah penguatan kemampuan kolektif masyarakat tani dalam mengelola sumber daya lahan dan air.

 

  1. Pengaruh kemajuan IPTEK pada perkembangan sistem pertanian dindonesia .

     

    Iptek adalah sinkatan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari pandangan definisi pengetahuan adalah segala sesuatu yang manusia ketahui dari berbagai kesempatan, baik yang disengaja atau pun yang tidak disengaja dan secara spontan. Ilmu merupakan hasil pemikiran manusia yang diperoleh dari pengalaman.

    Jadi, ilmu pengetahuan adalah hasil pemikiran manusia yang diperoleh dari pengetahuannya. Ilmu pengetahuan diperoleh dari cara kerja yang rinci, sistemetis, dan logis. Dengan begitu ilmu pengetahuan dapat dikatakan pengetahuan ilmiyah yang memiliki syarat dan ciri-ciri antara lain, objek, tujuan dan metode, memiliki empiris, rasional, dan objektif.

    Sedangkan definisi teknologi ialah ilmu terapan yang di dalamnya terdapat metode-metode untuk membuat sesuatu.

    Harvey Brooks mengartikan teknologi sebagai pemakai pengetahuan ilmiyah untuk menciptakan barang-barang dengan jalan produksi.

    Sedangkan Schon mengartikan teknologi adalah salah satu cara atau proses untuk membuat sesuatu yang dapat mengembangkan keterampilan manusia. Jadi, teknologi adalah faktor pendorong diciptakan dan dikembangkannya ilmu pengetahuan yang lebih maju. Iptek (Ilmu pengetahuan dan teknologi) itu saling berkaitan untuk menciptakan metode-metode terkini dalam ilmu pengetahuan.

    Perkembangan iptek sejalan dengan laju peradaban manusia di muka bumi. Sejalan dengan berkembangnya zaman, iptek yang pada awalnya adalah salah satu kebudayaan manusia, sekarang menjadi pencipta suatu alat untuk membantu aktivitas manusia.

     

    Peran iptek dalam kehidupan sehari-hari disamping dampak positif yang didapat, pasti dampak negatifnya juga terasa oleh kita. Perkembangan iptek yang sangat cepat di tahun-tahun terakhir ini yang mengakibatkan masyarakat menjadi ketergantungan kepada modernisasi.

    Yang dikhawatirkan masyarakat lupa akan kebudayaan dari nenek moyang aslinya. Karena sudah terkontaminasi oleh budaya luar.

    Peran iptek dalam pertanian sangatlah penting adanya. Pada krisis ekonomi yang dialami indonesia sejak tahun 1997, membuat para pakar pertanian sibuk menstrategikan pengaplikasian iptek dalam ilmu pertanian. Agaar dalam bertani dapat dicampurkan dengan teknologi , teknologi yang baru dan yang bertujuan agar hasilnya pun lebih banyak lagi .

    Misalnya dalam kegiatan pertanian, yang dulunya membajak sawah dengan menggunakan alat tradisional, kini sudah menggunakan peralatan mesin.sehingga aktifitas penanaman dapat lebih cepat di laksanakan tanpa memakan waktu yang lama dan tidak pula terlalu membutuhkan tenaga yang banyak.

    Ini adalah contoh kecil efek positif perkembangan IPTEK di dalam membantu aktifitas manusia dalam kehidupan sehari-hari.

    Namun walaupun begitu perkembangan iptek ini juga memilliki beberapa efek negative dibidang pertanian , salah satunya adalah haasil dari pertanian sendiripun tidak sebagus saat di olah oleh tangan manusia langsung bukan dengan mesin , walaupun dengan mesin itu hasilnya lebih banyak tetapi kebanyakan kualitasnya kurang memuaskan .

    Namun Revolusi pertanian didorong oleh penemuan mesin-mesin dan cara-cara baru dalam bidang pertanian. Ada pun yang menganggap teknologi yang senantiasa berubah itu sebagai syarat mutlak adanya pembangunan pertanian. Apabila tidak ada perubahan dalam teknologi maka pembangunan pertanian pun terhenti. Produksi terhenti kenaikannya, bahkan dapat menurun karena merosotnya kesuburan tanah atau karena kerusakan yang makin meningkat oleh hama penyakit yang semakin merajalela.

    Teknologi sering diartikan sebagai ilmu yang berhubungan dengan keterampilan di bidang industri. Tetapi ada juga yang mengartikan teknologi pertanian sebagai cara-cara untuk melakukan pekerjaan usaha tani. Didalamnya termasuk cara-cara bagaimana petani menyebarkan benih, memelihara tanaman dan memungut hasil serta memelihara ternak.

    Termasuk pula didalamnya benih, pupuk, pestisida, obat-obatan serta makanan ternak yang dipergunakan, perkakas, alat dan sumber tenaga. Termasuk juga didalamnya berbagai kombinasi cabang usaha, agar tenaga petani dan tanahnya dapat digunakan sebaik mungkin.

    Yang perlu disadari adalah pengaruh dari suatu teknologi baru pada produktivitas pertanian. Teknologi baru yang diterapkan dalam bidang pertanian selalu dimaksudkan untuk menaikkan produktivitas, apakah ia produktivitas tanah, modal atau tenaga kerja.

    Seperti halnya traktor lebih produktif daripada cangkul, pupuk buatan lebih produktif daripada pupuk hijau dan pupuk kandang, menanam padi dengan baris lebih produktif daripada menanamnya tidak teratur.

    Demikianlah masih banyak lagi cara-cara bertani baru, di mana petani setiap waktu dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

    Dalam menganalisa peranan teknologi baru dalam pembangunan pertanian, digunakan dua istilah lain yang sebenarnya berbeda namun dapat dianggap sama yaitu perubahan teknik (technical change) dan inovasi (inovation) .

    Istilah perubahan teknik jelas menunjukkan unsur perubahan suatu cara baik dalam produksi maupun dalam distribusi barang-barang dan jasa-jasa yang menjurus ke arah perbaikan dan peningkatan produktivitas.

    Misalnya ada petani yang berhasil mendapatkan hasil yang lebih tinggi daripada rekan-rekannya karena ia menggunakan sistem pengairan yang lebih teratur. Caranya hanya dengan menggenangi sawah pada saat-saat tertentu pada waktu menyebarkan pupuk dan sesudah itu mengeringkannya untuk memberikankesempatan kepada tanaman untuk mengisapnya. Sedangkan inovasi berarti pula suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, artinya selalu bersifat baru.

    Sebagai contoh, penerapan bibit karet yang unggul dalam penanaman baru adalah inovasi.

    Bila petani telah terangsang untuk membangun dan menaikkan produksi maka ia tidak boleh dikecewakan. Kalau pada suatu daerah petani telah diyakinkan akan kebaikan mutu suatu jenis bibit unggul atau oleh efektivitas penggunaan pupuk tertentu atau oleh mujarabnya obat pemberantas hama dan penyakit, maka bibit unggul, pupuk dan obat-obatan yang telah didemonstrasikan itu harus benar-benar tersedia secara lokal di dekat petani, di mana petani dapat membelinya.

    Kebanyakan metode baru yang dapat meningkatkan produksi pertanian, memerlukan penggunaan bahan-bahan dan alat-alat produksi khusus oleh petani. Diantaranya termasuk bibit, pupuk, pestisida, makanan dan obat ternak serta perkakas.

    Pembangunan pertanian menghendaki kesemuanya itu tersedia di atau dekat pedesaan (lokasi usaha tani), dalam jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi keperluan tiap petani yang membutuhkan dan menggunakannya dalam usaha taninya.

    Cara-cara kerja usaha tani yang lebih baik, pasar yang mudah dijangkau dan tersedianya sarana dan alat produksi memberi kesempatan kepada petani untuk menaikkan produksi. Begitu pula dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemerintah menjadi perangsang produksi bagi petani.

    Pemerintah menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan khusus yang dapat merangsang pembangunan pertanian. Misalnya kebijaksanaan harga beras minimum, subsidi harga pupuk, kegiatan-kegiatan penyuluhan pertanian yang intensif, perlombaan-perlombaan dengan hadiah menarik pada petani-petani teladan dan lain-lain.

    Pendidikan pembangunan pada petani-petani di desa, baik mengenai teknik-teknik baru dalam pertanian maupun mengenai keterampilan-keterampilan lainnya juga sangat membantu menciptakan iklim yang menggiatkan usaha pembangunan.

    Akhirnya kebijaksanaan harga pada umumnya yang menjamin stabilitas harga-harga hasil pertanian merupakan contoh yang dapat meningkatkan rangsangan pada petani untuk bekerja lebih giat dan mereka akan lebih pasti dalam usaha untuk meningkatkan produksi.

    Dalam pembangunan pertanian terdapat unsur perangkutan. Tanpa perangkutan yang efisien dan murah maka pembangunan pertanian tidak dapat diadakan secara efektif.

    Pentingnya perangkutan adalah bahwa produksi pertanian harus tersebar meluas, sehingga diperlukan jaringan perangkutan yang menyebar luas, untuk membawa sarana dan alat produksi ke tiap usaha tani dan membawa hasil usaha tani ke pasaran konsumen baik di kota besar dan/atau kota kecil. 

    Selanjutnya, perangkutan haruslah diusahakan semurah mungkin. Bagi petani, harga suatu input seperti pupuk adalah harga pabrik ditambah biaya angkut ke usaha taninya. Uang yang diterimanya dari penjualan hasil pertanian adalah harga di pasar pusat dikurangi dengan biaya angkut hasil pertanian tersebut dari usaha tani ke pasar.

    Jika biaya angkut terlalu tinggi, maka pupuk akan menjadi terlalu mahal bagi petani dan uang yang diterimanya dari penjualan hasil pertanian tersebut akan menjadi terlalu sedikit. Sebaliknya, jika biaya angkut rendah, maka uang yang diterima oleh petani akan menjadi tinggi.

    Berbagai sarana perangkutan dan jarak jauh bersama-sama harus membentuk sistem perangkuan yang merupakan satu kesatuan yang harmonis. Tidak hanya jalan raya yang diaspal, jalan setapak, jalan tanah, saluran air, jalan raya, sungai dan jalan kereta api semuanya ikut memperlancar perangkutan.

    Beberapa diantaranya dapat dibuat dan dipelihara oleh usaha setempat, termasuk pemerintah setempat. Beberapa lagi perlu dibangun dan dipelihara oleh pemerintah propinsi dan pusat.

    Kesemuanya harus dihubungkan dan diintegrasikan satu dengan yang lainnya, sehingga hasil pertanian dapat diangkut dengan lancar dari usaha tani ke pasar-pasar pusat. Demikian pula sarana dan alat produksi serta berbagai jasa tidak hanya perlu sampai ke kota kecil dan desa, melainkan juga sampai ke usaha tani itu sendiri.

    Sehingga dengan diperlancar segala akses nya semua yang dibutuh kan para petani didesa desa kecil dapat terpenuhi dengan cepat dan produksi pertanian pun makin maksimal .

     

  2. Pengaruh perkembangan industri pada perkembangan pertanian diindonesia.

     

    Semakin berkembangnya jaman semakin berkembangnya pula pemikiran masyarakat tentang pekrjaan yang akan mereka tekuni nanti . kebanyakan pola fikir jaman sekarang lebih modern . dalam segala hal termasuk dalam hal memilih pekerjaan nya .

    Dijaman sekarang ini masyarakat lebih memilih masuk kebidang industri seperti pabrik pabrik , pertokoan , dan juga lari ke bidang pekerjaan yang menurut mereka lebih menjanjikan seperti karyawan , PNS , dokter , dan lain lainnya dibanding kan dengan petani .

    Banyak faktor yang membuat sektor pertanian i Indonesia menurun salah satu nya adalah sektor industri ini yang makin banyak tersebar diindonesia , bahkan lahan pertanian banyak yg digarap untuk dijadikan pabrik pabrik , tempat pembelanjaan , hotel hotel , perumahan dan lain sebagai nya .

    Ada pun yang berpendapat bahwa sektor pertanian ini tidak banyak menjanjikan untuk kedepannya , kenapa ? karena dilihat dari musim nya yang kurang teratur yang membuat petani kebingungan yang kadang karna cuaca yang kacau seperti ini lah yang sering menjadikan gagal panen . kadang penghasilan sama modal yang keluar itu engga sesuai .

    Lahan pertaniannya pun semakin tahun sudah semakin menyusut , karna beberapa hal diatas , yang menyebabkan para generasi penerus lebih memilih merantau dan mencari pekerjaan yang menjanjikan .

    melemahnya penyerapan tenaga kerja terhadap sektor pertanian menurun ya ini pun di sebabkan karena menyusutnya lahan pertanian dan banyak nya teknologi teknologi yang menggantikan sumber daya manusianya .

    namun para petani memiliki alasan tersendiri mengapa mereka lebih menggunakan teknologi teknologi yang lebih canggih karena kualitas sumber daya manusia nya rendah dan kurang kreatif . dari hasilnya pun akan lebih cepat menggunakan mesin mesin canggih namun dari kualitas memang lebih bagus bila menggunakan SDM .

    tapi kan dilihat dari sikon dan perkembangan penduduk yang semakin tahun semakin banyak , itu mengartikan bahwa kebutuhan yang harus dipenuhi pun semakin banyak dan harus cepat .

    apalagi sekarang semakin terbatas nya lahan untuk dipakai bertani yang menyebabkan produksi pertanian tidak seproduktifitas dulu . sekarang hasil pertanian nya pun tidak sebanyak dan sebagus hasil pertanian dulu .

    karena alasan diatas itu pun banyak masyarakat dan pemerintah lebih semakin bergantung pada impor pangan dari luar negeri . impor memang menjadi alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan angan kita , terutama semakin murahnya produk pertanian . seperti beras yang diproduksi oleh vietnam dan thailand . namun kita juga perlu mencermati struktur perekonomian indonesia kedepannya dan bagaimana struktur tenaga krja yang akan terbentuk berdasarkan arah masa depan struktur perekonomian indonesia .

    Generasi muda sebagai penerus bangsa sedikit menaruh minaat pada bidang pertanian mereka lebih memilih mengadu nasib keluar kota bahkan keluar negeri . bkerja di pabrik pabrik , dibidang kedokteran , menjadi pegawai negeri sipil , dan pekerjaan bergengsi lainnya .

    Itu karena pertanian dianggap sebagai sektor yang kurang menjajikan bagi kesejahteraan hidup , kurang nya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas , lahan pertanian yang semakin berkurang dan lain sebagai nya.

    Adapun Ciri-ciri pokok perbedaan antara pertanian dan industri adalah:

    1. Produksi pertanian kurang pasti dan risikonya besar karena tergantung pada alam yang kebanyakannya di luar kekuasaan manusia untuk mengontrolnya, sedangkan industri tidak demikian.

       

    2. Pertanian memproduksi bahan-bahan makanan pokok dan bahan-bahan mentah yang dengan kemajuan ekonomi dan kenaikan tingkat hidup manusia permintaannya tidak akan naik seperti pada permintaan atas barang-barang industri

 

  1. Pertanian adalah bidang usaha dimana tidak hanya faktor-faktor ekonomi saja yang menentukan tetapi juga faktor-faktor sosiologi, kebiasaan dan lain-lain memegang peranan penting. Industri lebih bersifat lugas (zakelijk).

 

Dalam bidang ini harusnya pemerintah harus memikirkan beberapa kebijakan yang mapu menarik minat generasi muda agar menaruh minat nya pada sektor pertanian ini . Misalnya kebijaksanaan harga beras minimum, subsidi harga pupuk, kegiatan-kegiatan penyuluhan pertanian yang intensif, perlombaan-perlombaan dengan hadiah menarik pada petani-petani teladan dan lain-lain.

dengan hal hal seperti diatas menunjukan bahwa struktur perekonomian di indonesia mengalami pergeseran yanng tadinya dari sektor pertanian ke sektor nonpertanian .

 

PEMBAHASAN

 

Negara indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan hasil alamnya, terutama dalam sektor pertanian. Hampir 70% masyarakat indonesia hidup dengan menggantungkan diri dari hasil alam. Banyak sekali yang dapat diproduksi dari sektor pertanian.

Tidak hanya makanan pokok, tetapi juga cemilan, minuman dan masih banyak lagi yang bisa diproduksi oleh hasil pertanian. Bahkan Indonesia juga sudah banyak  mengekspor hasil produksi pertanian ke berbagai Negara di dunia.

Mengapa sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan ekonomi di Indonesia? Salah satu faktornya karena Indonesia merupakan Negara agraris, yang dipertahankan dari dulu dan masih sampai sekarang.

Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia, baik itu pada pertumbuhan ekonomi, penerimaan devisa Negara, pemenuhan kebutuhan pangan, maupun penyerapan tenaga kerja.

Pertanian juga memiliki kontribusi yang besar terhadap peningkatan devisa, yaitu lewat peningkatan ekspor dan pengurangan tingkat ketergantungan Negara terhadap impor atas komoditi pertanian.komoditas ekspor pertanian Indonesia cukup bervariasi mulai dari getah karet, kopi, hingga berbagai macam sayur dan buah. Peran pertanian dalam peningkatan devisa bisa kontradiksi dengan perannya dalam bentuk kontribusi produk.

Tetapi Banyak persoalan yang dihadapi oleh petani baik yang berhubungan langsung dengan produksi dan pemasaran hasil-hasil pertaniannya maupun yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain merupakan usaha, bagi si petani pertanian juga merupakan bagian dari hidupnya, bahkan suatu cara hidup (way of live), sehingga tidak hanya aspek ekonomi saja tetapi aspek-aspek sosial dan kebudayaan, aspek kepercayaan dan keagamaan serta aspek-aspek tradisi semuanya memegang peranan penting dalam tindakan-tindakan petani.

Namun demikian dari segi ekonomi pertanian, berhasil tidaknya produksi petani dan tingkat harga yang diterima oleh petani untuk hasil produksinya merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perilaku dan kehidupan petani.

Perbedaan yang jelas antara persoalan-persoalan ekonomi pertanian dan persoalan ekonomi di luar bidang ekonomi pertanian adalah jarak waktu (gap) antara pengeluaran yang harus dilakukan para pengusaha pertanian dengan penerimaan hasil penjualan.

Jarak waktu ini sering pula disebut gestation period, yang dalam bidang pertanian jauh lebih besar daripada dalam bidang industri. Di dalam bidang industri, sekali produksi telah berjalan maka penerimaan dari penjualan akan mengalir setiap hari sebagaimana mengalirnya hasil produksi.

Dalam bidang pertanian tidak demikian kecuali bagi para nelayan penangkap ikan yang dapat menerima hasil setiap hari sehabis ia menjual ikannya. Jadi ciri khas kehidupan petani adalah perbedaan pola penerimaan pendapatan dan pengeluarannya. Pendapatan petani hanya diterima setiap musim panen, sedangkan pengeluaran harus diadakan setiap hari, setiap minggu atau kadang-kadang dalam waktu yang sangat mendesak sebelum panen tiba.

Persoalan lain yang sifatnya lebih jelas lagi dalam ekonomi pertanian adalah persoalan yang menyangkut hubungan antara pembangunan pertanian dan jumlah penduduk. Penduduk bertambah lebih cepat daripada pertambahan produksi bahan makanan. Penduduk bertambah menurut deret ukur, sedangkan produksi bahan makanan hanya bertambah menurut deret hitung. Persoalan penduduk di Indonesia tidak hanya dalam kepadatannya tetapi juga pembagian antardaerah tidak seimbang.

Ditinjau dari sudut ekonomi pertanian maka adanya persoalan penduduk dapat dilihat dari tanda-tanda berikut:

  1. persediaan tanah pertanian yang makin kecil
  2. produksi bahan makanan per jiwa yang terus menurun
  3. bertambahnya pengangguran
  4. memburuknya hubungan-hubungan pemilik tanah dan bertambahnya hutang-hutang pertanian

 

pembangunan nasional khususnya pembangunan sektor pertanian dipusatkan pada upaya mendorong percepatan perubahan struktural, meliputi proses perubahan dari sistem pertanian tradisional ke sistem pertanian yang maju dan modern, dari sistem pertanian subsistem ke sistem pertanian yang berorientasi pasar dan dari kedudukan ketergantungan kepada kedudukan kemandirian.

Perubahan struktural tersebut merupakan langkah dasar yang meliputi pengalokasian sumber daya (baik alam, manusia maupun mekanik), penguatan kelembagaan dan pemberdayaan manusia. Dalam pelaksanaannya harus meliputi langkah-langkah nyata untuk meningkatkan akses kepada aset produktif berupa teknologi harus dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk tujuan-tujuan yang lebih maju dan lebih bermanfaat termasuk antara lain pengolahan tanah, pemberian air pemilihan bibit unggul, pemupukan, pengendlaian hama dan penyakit, dan pemanenan secara bijaksana.

Pembangunan pertanian harus diarahkan pada terciptanya tenaga petani yang terampil dalam mengelola usaha taninya. Juga terbentuknya masyarakat petani yang maju, bersemangat profesional sehingga mampu menghadapi tantangan dan permasalahan dalam melaksanakan usaha taninya.

Langkah yang menyebabkan pertanian di Jepang jauh meninggalkan Indonesia dalam jangka waktu yang sama adalah produktivitas pekerja. Yang utama dalam produktivitas pekerja (petani) Jepang adalah terjadinya perbaikan yang esensial dalam praktik pertanian Jepang sesuai dengan produksi kecil yang efisien. Selain itu di Jepang produktivitas pekerja (petani) bukan hanya diperhitungkan per ha sawah, tetapi penggunaan tenaga kerja dimanfaatkan se efisien mungkin dengan menggunakan perhitungan yang baik.

Di Indonesia, efisiensi yang diartikan sebagai kedayagunaan suatu sumber tenaga dapat menangani suatu bahan, masih belum mendapat perhatian secara serius. Padahal fungsi perbaikan pertanian adalah menaikkan pendapatan, kesejahteraan, taraf hidup dan daya beli petani. Sangat kecilnya efisiensi petani merupakan hambatan bagi faktor-faktor lain yang merupakan penetrasi pembangunan pertanian.

Perbaikan taraf hidup petani memang tidak dilakukan dengan hanya memberi landreform (Redistribusi Tanah Pertanian) atau credit reform (Pemberian Kredit Usaha Tani), tetapi perlu juga diperhatikan situasi kerja petani. Situasi kerja yang monoton dengan hasil yang rendah menyebabkan petani mengalami kejenuhan . Ditilik lebih jauh, perlu diakui bahwa kejenuhan petani ini terus berlangsung. Hal ini disebabkan oleh miskinnya inovasi dan tiadanya gebrakan-gebrakan baru yang menggairahkan petani.

Hambatan pembangunan dalam sektor pertanian di Indonesia adalah lambatnya kemajuan teknologi. Kontras teknologi selalu dipersoalkan. Tingkat teknologi yang rendah menyebabkan petani sulit memperoleh hasil dalam proses produksi yang maksimal. Kehilangan hasil dalam proses produksi sangat besar, sementara biaya yang diperlukan sangat tinggi. Contoh paling sederhana adalah dalam memanen padi.

Untuk 9 kg gabah harus dibayar 1 kg gabah. Jika total hasil panen padi (dalam satu musim tanam) dalam 1 ha adalah 9 ton gabah, maka biaya pemanenan yang dikeluarkan sebesar 1 ton gabah.

Efisiensi teknologi yang memperkecil tingkat kejerihan kerja dengan produktivitas tinggi masih dicemburui. Harapan memperkenalkan teknologi yang efisien selalu dihantui oleh pembengkakan pengangguran terutama di wilayah perdesaan. Akibatnya jumlah tenaga pengangguran semu dalam sektor pertanian di Indonesia sangat besar.

Tidak jelas lahirnya tenaga kerja semu ini karena efektivitas kerja rendah yang menyerap banyak tenaga manusia atau memang karena distribusi kerja yang tidak merata.

Dalam arah kebijakan pembangunan nasional, pembangunan sektor pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan kesejahteraan, daya beli, taraf hidup, kapasitas dan kemandirian serta akses masyarakat pertanian dalam proses pembangunan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produksi serta distribusi dan keanekaragaman hasil pertanian.

Pembangunan pertanian diarahkan pada pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan yang berbudaya industri, maju dan efisien ditingkatkan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembangunan pertanian memang sudah saatnya menganut pendekatan industri bukan lagi agraris, artinya menangani pertanian secara industri bukan lagi tergantung sepenuhnya kepada faktor alam. Pengertian industri dalam hal ini bukan semata-mata mendirikan pabrik, tetapi yang lebih mendasar adalah mentransformasikan budaya (pola pikir, sikap mental dan perilaku) masyarakat industri di kalangan para petani.

Kebudayaan industri tersebut antara lain mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, pertama pengetahuan merupakan landasan utama dalam menentukan langkah atau tindakan dalam pengambilan keputusan (bukan berdasarkan kebiasaan semata).Kedua, perekayasan harus menggantikan ketergantungan pada faktor alam. Ketiga, kemajuan teknologi merupakan sarana utama dalam pemanfaatan sumber daya. Keempat, efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumber daya agar penggunaan sumber daya tersebut hemat. Kelima, mekanisme pasar merupakan media utama transaksi barang dan jasa. Keenam, profesionalisme merupakan karakter yang menonjol.

Untuk memenuhi tuntutan di atas, alternatif inovasi yang sampai sekarang tampaknya.relevan walaupun tidak terlalu baru adalah penerapan mekanisasi pertanian (penggunaan alat dan mesin pertanian). Sudah saatnya dimulai penerapan mekanisasi pertanian dalam sistem pertanian nasional meskipun tetap dilakukan secara selektif.

Upaya menuju pertanian industri antara lain dapat dikembangkan dengan peningkatan penggunaan alat dan mesin pertanian dalam pengolahan tanah dan penanganan pasca panen. Salah satu keuntungan yang diperoleh adalah terjadinya peningkatan efisiensi dan produktivitas pemanfaatan sumber daya alam.

Penggunaan alat dan mesin pertanian saat ini memang sudah merupakan suatu kebutuhan. Efisiensi tinggi saat ini harus mulai diperkenalkan kepada petani. Hal ini tentu beralasan karena tenaga kerja yang digunakan saat ini tidak mempunyai kesinambungan (kontinuitas).

Seorang buruh tani hanya akan dibutuhkan pada saat pengolahan tanah dan panen. Pada proses lain mereka kurang dibutuhkan, akhirnya terjadi pengangguran yang tidak kentara (disguised unemployment). Pembuangan waktu yang lama dan sia-sia ini menyebabkan efisiensi menjadi lebih rendah.

Berdasarkan data dalam Involusi Pertanian, pada saat pengolahan tanah, traktorisasi di Indonesia sangat rendah dibanding negara lain. Pada hakikatnya Indonesia masih sangat ketinggalan pada pengembangan traktor.

Pemakaian traktor di Indonesia hanya 0,005 Kw/ha. Amerika Serikat 1,7 Kw/ha, Belanda 3,6 Kw/ha dan Jepang 5,6 Kw/ha. Rendahnya pemakaian traktor ini disebabkan oleh rendahnya perkembangan mekanisasi di Indonesia.

Akibatnya, untuk menggarap tanah seluas 1 ha diperlukan waktu berhari-hari dan melibatkan banyak tenaga manusia. Tenaga manusia akhirnya tidak mendapat harga yang layak sehingga produktivitas juga semakin rendah. Tenaga manusia adalah tenaga riskan, hanya digunakan paling cepat 4 bulan sekali menjadi buruh tani.

  1. Strategi dan Kebijakan Pokok Pembangunan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian

    Dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, maka strategi kebijakan yang ditempuh harus mencerminkan visinya, yaitu: tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

    Dalam hubungan tersebut maka strategi pokok pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian adalah:

  2. Meningkatkan Kapasitas dan Memberdayakan SDM serta Kelembagaan Usaha di Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.

     

    Salah satu permasalahan yang mendasar dalam memajukan usaha pertanian di tanah air adalah masih lemahnya kemampuan sumber daya manusia dan kelembagaan usaha dalam hal penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil.

    Hal tersebut disebabkan oleh karena pembinaan SDM pertanian selama ini lebih difokuskan kepada upaya peningkatan produksi (budidaya) pertanian, sedangkan produktivitas dan daya saing usaha agribisnis sangat ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha yang bersangkutan dalam mengelola produk yang dihasilkan (pasca panen dan pengolahan hasil) serta pemasarannya. Adapun beberapa kebijakan operasional terkait dengan strategi tersebut adalah:

    1. Meningkatkan penyuluhan, pendampingan, pendidikan dan pelatihan di bidang pasca panen, pengolahan serta pemasaran hasil pertanian;
    2. Mengembangkan kelembagaan usaha pelayanan pascapanen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian yang langsung dikelola oleh petani/kelompok tani.

       

  3. Meningkatkan Inovasi Dan Diseminasi Teknologi Pasca Panen Dan Pengolahan .

     

    Salah satu dampak yang signifikan dari kebijakan yang menitik beratkan kepada usaha produksi (budidaya) selama ini adalah kurang memadainya upaya-upaya inovasi teknologi pasca panen dan pengolahan serta diseminasinya.

    Hal tersebut mengakibatkan lemahnya daya saing dan kecilnya nilai tambah yang dapat dinikmati oleh petani, sehingga kesejahteraan tidak meningkat dari tahun ke tahun. Untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian maka perlu ditingkatkan upaya-upaya inovasi teknologi pasca panen dan pengolahan hasil pertanian serta diseminasinya.

    Dalam hubungan tersebut, beberapa kebijakan yang akan dilaksanakan adalah:

     

    1. Melakukan kerjasama dan koordinasi dengan sumber-sumber inovasi teknologi seperti lembaga riset, Perguruan Tinggi dan bengkel-bengkel swasta dalam rangka pengembangan dan diseminasi teknologi tepat guna.
    2. Mengembangkan bengkel alsin pascapanen dan pengolahan hasil
    3. Mengembangkan sistem sertifikasi dan apresiasi (penghargaan) terhadap inovasi teknologi yang dilakukan oleh masyarakat.
    4. Mengembangkan pilot proyek dan percontohan penerapan teknologi pasca panen dan pengolahan hasil pertanian.
    5. Memberikan penghargaan dengan kriteria mutu, rasa, skala usaha, tampilan terhadap produk olahan yang dihasilkan oleh para pelaku usaha.

       

  4. Meningkatkan Efisiensi Usaha Pasca Panen, Pengolahan Dan Pemasaran Hasil

     

    Kunci terpenting dalam rangka meningkatkan daya saing produk pertanian baik produk segar maupun olahan hasil pertanian adalah mutu produk yang baik dan efisiensi dalam proses produksi maupun pada tahap pemasarannya.

    Mutu produk dan efisiensi akan berpengaruh langsung terhadap harga dari setiap produk bersangkutan. Kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu dan efisiensi produksi dan pemasaran hasil pertanian di antaranya adalah:

 

  1. Revitalisasi teknologi dan sarana/ prasarana usaha pasca panen pengolahan dan pemasaran hasil pertanian;
  2. Mengembangkan produksi sesuai potensi pasar;
  3. Menerapkan sistem jaminan mutu, termasuk penerapan GAP, GHP dan GMP;
  4. Mengembangkan kelembagaan pemasaran yang dikelola oleh kelompok tani di sentra produksi;
  5. Mengupayakan sistem dan proses distribusi yang efisien.
  6. Memfasilitasi pengembangan kewirausahaan dan kemitraan usaha pada bidang pemasaran hasil pertanian

     

    1. Meningkatkan Pangsa Pasar Baik Di Pasar Domestik Maupun Internasional.

       

      Pasar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha agribisnis; oleh karena itu maka pengembangan pemasaran harus selalu dilakukan sejalan dengan pengembangan usaha produksi.

      Seperti usaha industri pada umumnya, sistem usaha produksi pertanian atau agribisnis dimulai dengan salah satu kegiatan pemasaran yaitu Riset Pasar. Dari kegiatan riset pasar dihasilkan informasi pasar yaitu antara lain berupa potensi pasar dan harga.

      Sub sistem selanjutnya adalah perencanaan produksi, termasuk penentuan desain produk, volume dan waktu. Dalam sistem budidaya pertanian, perencanaan tersebut lazim disebut sebagai penentuan pola tanam atau penentuan luas tanam untuk tanaman semusim.

      Hal tersebut perlu dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas harga produk yang bersangkutan tetap berada pada tingkat harga yang wajar berdasarkan keseimbangan kebutuhan dan pasokan atas produk yang bersangkutan.

      Sub sistem selanjutnya adalah kegiatan pemasaran yang meliputi: promosi, penjualan dan diakhiri dengan distribusi (delivery). Dalam hubungan tersebut maka beberapa kebijakan dalam pengembangan pasar ialah:

       

      1. Mengembangkan kegiatan riset pasar
      2. Meningkatkan pelayanan informasi pasar;
      3. Meningkatkan promosi dan diplomasi pertanian;
      4. Mengembangkan infrastruktur dan sistem pemasaran yang efektif dan adil.
      5. Rasionalisasi impor produk pertanian.
      6. Memfasilitasi pengembangan investasi dalam pengembangan infrastruktur pemasaran.

     

    Jadi setelah mengalami panen pemasaran nya juga harus baik sehingga hasil jerih payah para petani dapat terbalas . dengan seperti itu produksi pertanian pun akan semakin membaik karna ada timbal balik dari konsumen kepada para petani .

     

    KESIMPULAN & SARAN

    Sistem pertanian di Indonesia sampai saat ini masih mempunyai peran penting dalam perekonomian Indonesia . peran swbagai penunjang perekenomian indonesia .

    Namun walaupun pemerintah menyadari peran penting pertanian sampai saat ini belum ada kebijakan ekonomi yang berpihak pada pertanian .

    Kebijakan pertanian yang ada belum sesuai dengan apa yang diharapkan .

    Seharus nya diadakan beberapa penyuluhan pertanian untuk membantu mengatasi segala permasalahn yang dihadapi para petani . namun sayang nya penyuluhan yang sring diadakan sekarang bukan penyuluhan yang ditekankan pada petaninya , tapi penyuluhan yang ditekankan pada teknologi teknologi .

    Dan itu lah yang menyebabkan para petani tidak mandiri lagi . ya memang awalnya bertujuan untuk mempercepat dan memperbanyak produksi tapi dengan cara seperti itu banyak yang bisa dihilangkan atau dikurangi , contohnya sumber daya manusia nya berkurang karna sekarang semua pekerjaan sudah menggunakan berbagai macam teknologi , lagi pula hasil dari pertaniannya pun kurang bagus apabila dikerjakan dengan semua mesin .

    Memang dalam hal ini masyarakat yang berperan penting namun di sisi lain pemerintah juga memegang peran yang penting dalam mengendalikan dan memberi kebijakan kebijakan agar sektor pertanian di Indonesia tidak semakin menyusut dimakan jaman . Karna adanya industri industri dan pembangunan pembangun perumahan yang menyebabkan menyusutnya lahan pertanian .

    Adanya ketidak konsistenan pemerintah dalam menjalan kan beberapa kebijakan sektor pertanian pun berakibat fatal untuk kesejahteraan kehidupan para petani .

    Seharusnya pemerintah bisa lebiih bijak lagi dalam menangani permasalahn permasalan dibidang pertanian ini karenakan sektor pertanian ini salah satu penunjang perekonimian indonesia .

    Apabila pemerintah bisa lebih bijak dan konsisten dalam menjalan kan kebijakan kebijakan yang telah dibuat mungkin lahan pertanian tidak akan dengan mudah menyusut karena diambil alih oleh pihak pihak yang sengaja mengambilnya untuk mengembangkan bidang nonpertanian .

     

    Mungkin juga dengan seperti itu hasil pertanian bisa lebih bagus dibanding kan dengan hasil pertanian import dengan seperti itu mungkin saja kehidupan para petani akan lebih sejahtera dan peminatnya pun makin bertambah untuk memeruskan pertanian di Indonesia .

     

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pasandaran,effendi.2006.jurnal litbang pertanian 25(4).alternatif kebijakan pengendalian konversi lahan sawah beririgasi diIndonesia.Bogor

 

Afandai,Nur muhamad.Agustus 2011.volume VIII No 2.jurnal ilmu administrasi.analisis kebijakan alih fungsi lahan pertanian terhadap ketahanan pangan dijawabarat.Bandung

 

Malian,A husni.Juni 2004.volume 2 no 2.kebijakan perdagangan internasional komoditas pertanian Indonesia.Bogor

 

Sarasutha.2002.jurnal litbang 21/2.kinerja tani dan pemasaran jagung di sentra produksi.sulawesi selatan

 

Irawan,Bambang.Juli 2005.volume 23 No 1.konversi lahan sawah : potensi dampak , pola pemanfaatannya dan faktor determinan.Bogor

 

Suseno.suyatna.maret 2007.volume 10 No 3.Mewujudkan pertanian yang pro petani.Yogyakarta

 

Zakaria,A wan.penguatan kelembagaan kelompok tani kunci kesejahteraan petani.Lampung

 

Sudana,wayan.Juni 2005.Volume 3 No 2.potensi dan prospek lahan rawa sebagai sumber produksi pertanian.Bogor

 

Sadono,dwi.Maret 2008.vol 4 No 1.pemberdayaan petani : pradigma baru penyuluhan petani diIndonesia.Bogor

 

Surmaini,rantunuwu,las.2011.30(1).upaya sektor pertanian dalam menghadapi perubahan iklim.Bogor

 

Notohaprawiro,tejoyuwono.2006.Vol 6(2).pembangunan pertanian berkelanjutan dalam konteks globalisasi dan demokratisasi ekonomi.yogyakarta .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s